- Media diyakini sebagai alat untuk mencapai kebutuhan dalam hal hiburan dan pengetahuan
- Pada umumnya orang tua tidak memahami esensi media, termasuk definisi media, fungsi, serta dampaknya pada kehidupan anak sehari-hari.
- Jenis media yang paling dekat dengan keseharian anak menurut orangtua adalah tv, game computer, dan play station.
- Konten media yang dikonsumsi sepemahaman orangtua cukup beragam, mulai dari acara anak-anak (Si Bolang, Ipin-Upin, Krishna, dan jenis kartun lainnya), acara sepak bola, hingga sinetron.
- Frekuensi pengonsumsian media berkisar 3 jam pada hari sekolah, sedangkan pada hari libur anak mengonsumsi media selama satu hari nonstop. Ada pula orangtua yang menyatakan anak mengonsumsi media sesuka hatinya.
- Orangtua tidak membuat peraturan pengonsumsian media secara tegas, namun hanya sebatas mengawasi. ‘Mengawasi’ hanya berlaku bila orangtua ada di Rumah bersama anak, namun perilaku anak menjadi lebih bebas bila tidak ada orangtua karena tidak terdapat peraturan yang mengikat.
Tampilkan postingan dengan label Asesmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asesmen. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Mei 2011
Hasil FGD Orangtua Siswa SD
Kira-kira selama satu bulan yang lalu, kami melakukan need asesmen kepada orangtua siswa di SD yang telah menjadi binaan tim kami. asesmen ini kami lakukan dengan cara FGD perwakilan orang tua yang kami ambil secara acak. poin-poin penting yang bisa kambil dari hasil diskusi tersebut antara lain:
Hasil FGD Guru SD
Dua bulan yang lalu tim media literasi psikologi undip melakukan need asesmen ke beberapa SD disekitaran kampus undip. Salah satu metode asesmen yang kami gunakan adalah FGD dengan perwakilan guru-guru SD dari masing-masing sekolah. Berdasarkan hasil diskusi bersama guru SD, pada umumnya media dipahami sebagai alat untuk membantu pembelajaran. Media merupakan benda tidak bergerak yang bisa menimbulkan efek positif maupun negatif, tergantung dari pemakaian seorang. Guru mengakui bahwa media bukan lagi barang mewah. Kini media telah erat dalam kehidupan anak, bahkan melekat di keseharian mereka. terdapat media cetak dan media elektronik, para guru mengatakan media elektronik jauh lebih erat di kehidupan anak. hal Berikut adalah media yang menurut guru SD paling sering dikonsumsi anak:
- TV
- Game online
- Playstation
- Internet
- Handphone
- Komputer/Laptop
- Game tendo
Anak biasa mengonsumsi media sepulang sekolah, umumnya mereka menonton tv sampai malam. Hal ini biasa dilakukan pada hari sekolah. Menurut penuturan dari beberapa guru anak akan lebih leluasa menggunakan media pada hari libur, khususnya untuk menonton TV dan main game satu hari non-stop. Para guru cenderung tidak mengetahui aktivitas anak di luar sekolah dan rumah. Guru yakin anak telah mengonsumsi internet, playstation, dan game online, namun guru sendiri tidak mengetahui konten yang dikonsumsi anak. Di sisi lain, penggunaan handphone hanya sebatas pada anak dalam kategori menengah ke atas. Di SD Pedalangan 2, terdapat peraturan yang melarang anak membawa handphone. Namun demikian, beberapa anak sering melanggar peraturan. Pernah terjadi kasus penyalahgunaan handphone di kelas 5 untuk tindak asusila, yakni melihat tayangan pornografi. Hal ini sangat disayangkan terjadi pada siswa SD yang notabene sebagai generasi bangsa yang seharusnya mengenyam pendidikan dengan akhlak berkualitas.
Sumber informasi penggunaan media pada anak sebagian besar dari teman, selain itu dari informasi yang berkembang di masyarakat, serta proses belajar otodidak. Hanya sedikit anak yang mengetahui media dari saudara, bahkan tidak ada guru yang mengatakan sumber informasi yang berasal dari orang tua atau keluarga.
Para guru cenderung kurang mengawasi aktivitas anak dalam mengonsumsi media. Mereka cenderung membatasi peran di lingkungan sekolah saja. Pendidikan media pun belum disampaikan dengan baik, baru sebatas nasihat atau perkataan biasa. Materi tentang media yang tercakup dalam sub materi globalisasi sudah diberikan di kelas 4, 5, dan 6, sehingga pendidikan media menjadi satu dalam materi tersebut. Sebagian besar guru SD belum mengetahui konsep literasi media, sehingga penyampaian pendidikan media pada anak pun hanya dilaksanakan apa adanya. Mereka menghendaki adanya kerjasama berbagai pihak, yaitu sekolah, keluarga, dan pemerintah. Guru juga menekankan pentingnya pendidikan moral dan agama untuk membentengi anak dari gencaran media yang tidak bertanggun jawab.
(Reporter: Rini N, Tim Media literasi Psiko Undip)
Langganan:
Postingan (Atom)